Rabu, 27 Juli 2011

Judulnya Kenangan :)

Kenangan itu memang kini selalu ada dalam fikirku
Kenangan itu walaupun hanya sekecil pasir,,
Pasti tetap teringat..
Apalagi kenangan yang bertahun disaat kita masih bayi hingga saat ini masih menemani kita walaupun sudah berbeda jarak, berbeda masa..
Tapi hal itu masih saja terbenam dalam hati….

Pasti sempat terfikir oleh kita,, khususnya saya
Ingin kembali ke kenangan itu apalagi kalo memang hal indah yang dikenang,, tapi tentu juga pahit sekalipun ingin mengulang dan memperbaikinya kembali…

Kenangan ku saat ini yang terfikir adalah
"Si pohon jambu dan rumah tua itu"
Sela bertahun2 aku meninggalkannya tanpa memikirkan akan mengingatnya kembali,, spontan saja semuanya tergambar dimata ku..

"si pohon jambu"  itu ,,
Saat ini masih menjadi saksi bisu dikehidupan orang2 sekitarnya,,
masih menjadi bukti bagi kecilku dulu,
dan pastinya masih dapat memberikan sebagian rejeki yang dihasilkannya untuk siapapun…

Seandainya pohon jambu itu bisa berbincang,,
Akan kah ia masih teringat padaku?? Si anak kecil yg dulu sering menaikinya
Si anak kecil yang dulu sering menyakitinya dengan sebuah pisau untuk mencari getahnya,
Si anak kecil yang sering mencuri daun-daunnya untuk kreasi masakan yang dikerjakannya..
Si anak kecil itu adalah "aku"..

Hmm… rasanya aku ingin menaikimu lagi pohon jambu,, tapi sekarang aku gak akan teriak2 minta tolong untuk diturunkan dan pasti aq sudah bisa turun "sendiri",, dan aku juga pasti mampu mematahkan dahan2 mu yang sudah rapuh karena berat ku :P
Hhheeee :)

Aku baru sadar ,,
Bagaimana pengalamanmu sampai saat ini kamu masih bisa bertahan dilingkungan mu yang pasti sudah berbeda itu,,,
Dan aku berpikir untuk terus hidup walaupun dalam keadaan yang buruk..
Aku bisa belajar banyak darimu pohon jambu….
Kau ini sudah bertahun2 hidup mu seperti disia-siakan ,, kau tetap hidup tanpa ada yang memberi mu air siraman saat pagi atau sore hari,,tak ada yang memperhatikanmu kecuali alam..
Tapi kau selalu memberi kami hasil mu itu ….
Tanpa kau beri sebuah keinginan untuk dibayar oleh "Kami"

"Rumah tua",, sekarang kau sudah berbeda tak seperti dulu…
Kelas 5 SD .. Itu terakhir kalinya aq menginjakkan di lantai mu itu
Dulu terasa bahagia bila aq berada disana,, tapi sekarang mengapa hanya ada air mata atau pun rasa sedih yang terpendam dalam hati ini..

Sekarang keadaan mu begitu tak layak,,
Tak seperti dulu ada yang merawat mu setiap hari
Kini tak akan ada lagi yang tinggal disana karena semuanya telah tiada..
Kenanganmu bersama sepasang manusia kini hanya kenangan saja,,
Dan maaf saja yang mampu aku lirihkan dalam hatiku….


Kekuasaan vs Penonton

Kekuasaan sebelumnya saya bertanya-tanya kenapa harus ada dibenak pribadi manusia itu sendiri ???
Kekuasaan dalam pandangan saya seperti "aktris dalam perannya".
Kekuasaan dalam pandangan saya lebih banyak buruknya dari pada baiknya
Karena itu lah saya menghindar dari kekuasaan tersebut atau jabatan secara frontalnya..

Memang benar wanita itu belum pantas menjadi seorang pemimpin,,
Belum bukan berarti tidak!!
Belum bukan berarti wanita tidak bisa, menjadi nahkoda dalam perahunya
Tapi memang betul, semua itu sudah ada ketentuannya sendiri.
Bisa bukan berarti harus menyetir seluruh awak perahunya.

Kekuasaan dimata ku kini sudah terlalu ekstrem,, walau masih dikalangan mahasiswa.
Kekuasaan itu ternyata memang milik si "Empunya" atas kuasa ,,
Saya mungkin disini hanya sebagai penonton setia dalam akrobat-akrobat para pemain "kuasa" tersebut..
Salah saya hanya sebagai penonton setia, tak bisa melakukan apa-apa ..
Mau men"Kat" adegan demi adegan kami tak berhak,, yang berhak hanya si sutradara penyetir skenario nya..

Memang salah saya,, ingin ikut serta dalam adegan namun hanya ingin menjadi penonton.
Memang tidak bisa dan tak akan bisa ikut dalam akrobat yang disusun nya..
Dalam hal ini tentunya "aktris" yang bersangkutan harus tahu apakah dia sedang salah memainkan perannya atau kah memang dia punya peran ganda.
Tuntutan akan peran yang dimainkan kini menurut saya sungguh melampaui skenarionya,, dan tak berhak menyetir pemain-pemain lain jika ingin menjadi "terkenal".

Dalam tuntutan skenario yang sudah pasti ada batasnya seharusnya dia membiasakan diri dalam mengembangkan perannya tersebut, tapi mengapa mereka itu selalu melebih-lebihkan perannya,, walaupun memang itu hal yang baik untuk tuntutan peran mereka…

Sebenarnya melampaui batas itu baik,, tapi dalam porsi tertentu, tidak semua hak pemain lain diambil alih olehnya,,
Berikanlah peran kepada orang-orang yang berhak atas itu,,
Dan tuntunlah mereka agar menjadi aktris terkenal juga,,
Seperti kalian yang kini menjadi seorang terkenal dimata orang..

Dan saya fikirkan kekuasaan seperti halnya diatas tadi,, memang agak sedikit kurang sinkron atas idiom tersebut.
Tapi,, mungkin bagi mereka yang mengerti dan faham maksud dan tujuan saya menuliskan hal ini,, akan mampu menggambarkan apa yang mereka lakukan dan bagaimana atau sejauh mana mereka menapakkan langkahnya apakah sudah dibatasnya ataukah memang sengaja melampaui batas…??